Nostalgia Hujan

Posted on 06/07/2010

8


Selembar daun melayang terjatuh di rambut Ema, angin kencang yang menerbangkannya. Cuaca mendung menyejukkan Jakarta hari ini. Mendung tapi tidak hujan. Cuaca terbaik yang selalu dirindukannya. Berikut aroma tanah sisa hujan tadi pagi. Siang yang sejuk di Jakarta adalah sebuah kemewahan. Sejuk yang masih tersisa hingga sore.

Andi dan Ema duduk berdua pada sebuah halte. Mengacuhkan setiap angkutan umum yang lewat. Terlalu asik bercakap-cakap, atau memang tidak sedang menunggu angkutan, tidak ada yang peduli.

“Cuacanya seperti di Eropa” Celetuk Andi.

“Eropa?” Ema tertawa geli.

“Ya, kalau saja ini Eropa, aku akan bawa roti, remah-remahnya kusebar untuk burung-burung merpati liar”

“Seperti yang foto yang pernah kau kirim dulu?”

“Ya, menyenangkan dikelilingi burung-burung itu, serasa raja yang memberi makanan kepada rakyat jelata. ” Andi berujar sambil tertawa.

“Sayang di Jakarta tidak ada tempat seperti itu” Ema menimpali.

“Di Jakarta, bukan roti yang kubawa, melainkan beberapa keping uang logam. Kusebar kepada mereka yang meminta-minta”

“Yee, beda itu, mah!!“

Mereka berdua lalu tertawa-tawa.

Selera humor Andi selalu menyenangkan hati Ema. Selain senyum lebarnya yang tulus. Dan sorot mata tajam yang susah ditebak maknanya. Sebagian orang bilang, mata dapat berbicara. Tapi untuk Andi, itu tidak berlaku. Setidaknya demikian menurut Ema.

“Kau, Andi.. sudah bagus sekolah ke Eropa, malah memilih pulang kemari”

“Aku kangen suara jangkrik”

“huh! Klise.. apa yang dikangenin dari suara jangkrik?”

“Jangkrik, bagiku ngangenin, Em.. sekalipun cuma bunyi krik krik krik, tapi membangkitkan nostalgia!”

“Hahaha.. dasar melankolis”

“Jangkrik juga mengingatkanku pada film Dono Kasino Indro”

“Jangkrik, bos! Ahaha.. iya, aku ingat film itu!”

Mereka kembali terdiam. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Ema mengetuk-ngetuk trotoar dengan sepatunya. Andi menatap ke langit yang mendung. Makin lama langit makin pekat. Jauh diselatan sana, sudah terlihat gelap. Tidak lama lagi hujan akan turun.

Senja dan Hujan adalah paduan yang tidak disukai Ema. Tetes hujan kala senja mengingatkan Ema pada tangis bocah tetangganya semasa kecil dulu. Bukan tangisan bocah yang reda dengan iming-iming mainan baru, melainkan Tangis bocah karena lapar.

Tangis lapar itu dijawab dengan tabokan oleh ibu si bocah. “Bisa diem, nggak?! Bisa diem nggak?!”. Ema ingat itu terjadi pada suatu senja dengan hujan dan petir bersahutan. Suara tangis bocah yang lapar, terdengar berbeda, menyayat hati. Bocah pemilik tangis itu kini telah dewasa, ia duduk disamping Ema sekarang.

“Ayo Andi kita pergi, mau hujan nih”

“Enggak ah, aku kangen mandi hujan”

Ema bangkit dari bangku halte. Memanggil Taksi, angin kencang berhembus, menerbangkan selembar daun yang tadi menempel di rambutnya. Hujan turun tanpa gerimis. Samar terlihat dari balik kaca, Andi masih duduk ditempat yang sama, masih dengan sorot mata tajam yang susah ditebak maknanya.

Posted in: Sosial